Home   News   Bijak Memanfaatkan Waktu

Bijak Memanfaatkan Waktu

Pada olahraga karate, untuk menjadi seorang karateka yang andal, tidak hanya dituntut untuk selalu berlatih secara serius, tetapi juga harus menjalani ujian untuk mencapai kelas/tingkat yang lebih tinggi. Hanya karateka yang dinyatakan lulus ujian, yang berhak mengenakan sabuk setingkat lebih tinggi.

Bagaimana jika saat diuji mereka tidak siap/kurang siap?

Kita bisa tebak. Hasilnya pasti kurang memuaskan. Atau bahkan bisa dinyatakan tidak lulus atau tidak bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Demikian juga kita sebagai siswa. Selain harus selalu belajar dan belajar, kita juga mesti siap untuk menghadapi “ujian-ujian.” Hasil (nilai) yang kita peroleh dari beberapa kali uji kompetensi baik dengan tes maupun nontes, serta hasil dari Ujian Nasional (UN)/ Ulangan Kenaikkan Kelas Bersama (UKKB) itulah yang akan diolah untuk menentukan apakah kita bisa dinyatakan: lulus atau tidak lulus. Naik atau tidak naik kelas.

Untuk kita yang merasa “tabungan nilai”-nya masih kurang, tidak perlu panik. kita belum terlambat. Masih ada waktu, meskipun tidak banyak.

Kalau di dalam Efesus 5:16 tertulis, “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat,” maka kita bisa analogikan menjadi, “pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah penentuan masa depan…lulus/tidak lulus atau naik/tidak naik kelas.”

Bagaimana cara kita mempergunakan waktu yang ada …?

Konon ketika Archis, seorang hakim di Kota Thebes, Yunani Kuno sedang menikmati anggur dengan para perwira setempat, tiba-tiba datanglah seorang kurir yang membawa sepucuk surat yang berisi tentang pemberitahuan bahwa ada persekongkolan yang hendak menghabisi nyawanya. Maka ia diperingatkan agar segera melarikan diri ke tempat yang aman.

Archis menerima surat itu, tetapi alih-alih membuka dan membacanya, ia memasukkannya ke kantong, sambil berucap, “Urusan bisnis besok pagi saja!” Dia pikir, nanti atau besok juga masih ada waktu.

Ternyata pikiran Archis salah. Dia harus membayar mahal “hanya”  karena menunda untuk membaca surat tersebut. Ketika surat masih di dalam kantongnya, ia sudah ditangkap. Dan setelah ditangkap oleh orang-orang yang membencinya, ia baru membuka dan membaca surat dari kurir tersebut. Ia pun menyesal. Namun penyesalannya tidak bisa menolong apa-apa. Semua sudah terlambat. Keesokan harinya ia didapati sudah tewas.

Yosua pernah menegur dengan keras kepada tujuh suku bangsa Israel yang sepertinya tidak bisa menghargai waktu yang ada.

“Berapa lama lagi kamu bermalas-malasan, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu.” (Yosua 18:3)

Penundaan suatu pekerjaan memang tidak selalu berakibat fatal seperti yang dialami oleh Archis. Namun kecenderungan suka menunda tugas biasanya menunjukkan kurangnya disiplin pribadi dan buruknya pengelolaan waktu.

Akibatnya suatu pekerjaan itu menjadi terasa berat dan tidak menyenangkan. Jika sudah demikian pasti usaha yang kita lakukan tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Amsal 20:4 “Pada musim dingin si pemalas tidak membajak, jikalau ia mencari pada musimnya menuai, maka tidak ada apa-apa.”

Jangan sampai Amsal ini terjadi pada diri kita. Berdoalah kepada Tuhan, dan mintalah kasih karunia-Nya agar kita diberikan sukacita dalam belajar, dan diberikan konsentrasi ekstra untuk mempersiapkan diri menghadapi UN dan UKKB yang ada di depan mata. Kerjakanlah hari ini, apa yang bisa kita lakukan hari ini. Jangan menundanya menjadi besok atau bahkan lusa. Jangan ada penyesalan yang terlambat. Tetapi menyesallah sekarang sebelum terlambat.

Petani yang malas membajak, jangan harap akan memanen. Ibarat seorang petani, pada saatnya pasti kita mau “memanen”. Kita mau lulus atau naik kelas. Oleh karena itu belajarlah dengan tekun! Pergunakanlah waktu yang ada secara bijak. Agar pada saatnya nanti kita semua dinyatakan LULUS atau semua NAIK KELAS!  SUKSES!! (Andsw.)

 

Share